Kanker Nasofaring / Carcinoma Nasofaring / Kanker Rongga hidung Part 1

Ch 4. Ternyata itu adalah Kanker Nasofaring (Carcinoma Nasofaring)

Sebenarnya setelah pulang dari IGD saya penasaran dengan yang namanya nasofaring, searching di internet apa itu nasofaring (sebelumnya ga tau cara nulis nasofaring gimana jadi pakai keywordnya macam – macam yang penting ada faringnya, akhirnya dengan petunjuk dari mbah google ketemu kata yang pas yaitu nasofaring). Setelah membaca sedikit banyak kita tahu apa itu nasofaring dan kemungkinan yang terburuk bisa saja itu kanker nasofaring. Tetapi karena belum ada pemeriksaan sama sekali saya hanya berpikir positif saja semoga bukan cancer yang membuat saya merasa kurang nyaman akhir – akhir ini.
Hari kamis tanggal 4 Februari 2016 saya berangkat ke RSMH untuk melanjutkan pemeriksaan, untuk hari saya berangkat pagi, jam setengah 8 sudah berangkat dari rumah, walaupun sudah pagi tetap saja setelah sampai disana masih mendapat no urut diatas 200-an, hiks. Mengantri pendaftaran selesai dan masih ngantri lagi  di poli THT, sekarang saya memastikan lagi ke petugasnya supaya kejadian tidak dipanggil pas periksa pertama kali tidak terulang lagi. Dan akhirnya saya dapat panggilan masuk ke dalam poli untuk pemeriksaan. Setelah dokter mengecek lagi kondisi benjolan dileher dan bertanya tentang kebiasaan makan saya dan juga lingkungan tempat tinggal serta tempat kerja dan juga riwayat keluarga dokter mengasih saya surat rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sedikit percakapan yang terekam oleh saya
Dokter  : Mimisan sudah berapa lama pak??
Saya       : Mungkin sekitar 2 tahun dok
Dokter  : Kalau benjolan di leher kapan mulai muncul??
Saya       : Kurang lebih sama dok, sekitar 2 tahun yang lalu juga, yang pertama sebelah kiri trus kanan
Dokter  : Bapak sering makan mi instan??
Saya       : Saya makan mi instan, tapi ga sering dok, kalau kepingin saja baru saya makan mi instan
Dokter  : Makan Ikan asin atau makanan kalengan??
Saya       : Ikan Asin saya ga doyan dok, kalau makanan kaleng kayak sarden kadang – kadang juga
Dokter  : Keluarga ada yang pernah terdiagnosa kanker atau tumor??
Saya       : Tidak ada dok
Dokter  : Ditempat tinggal & tempat kerja bapak ada ga terpapar zat –zat yang berbahaya/beracun??
Saya       : Kalau ditempat tinggal saya ga ada dok, ditempat kerja saya mungkin pernah terpapar zat tapi tidak sering dok, tapi kalau mencium bau yang menyengat hampir tiap hari. Tapi itu 4 tahun yang lalu dok, sekarang sudah tidak lagi.
Saya       : Kenapa memangnya dok??
Dokter  : Soalnya kebiasaan bapak bisa jadi salah satu menjadi faktornya
Dokter  : Bapak nanti periksa darah,  ke unit radiologi buat rongten torak, trus periksa ECG jantung, setelah hasilnya dapat kesini lagi terus nanti saya rujuk ke dokter penyakit dalam buat periksa hasil rongten sama ECG.

Setelah mendapat penjelasan dari petugas poli dan stempel – stempel saya turun ke lantai 1 untuk mencari laboratorium, tempat rongten dan tempat ECG. Alhamdulillah bisa ketemu semua tempatnya, dan bisa dilakukan semua pengecekan pada hari itu juga. Tetapi untuk hasil pemeriksaan baru bisa diambil besok. Esok hari hasil rongten dan darah sudah didapat lansung dikonsul ke dokter poli THT, setelah itu di rujuk ke dokter penyakit dalam. Setelah mendapat hasil dari Dokter penyakit dalam konsul lagi ke dokter THT, kemudian dijadwalkan untuk biopsy pada tanggal 9 Februari 2016.
Hari Selasa tanggal 9 Februari 2016 datang pagi ke RSMH supaya proses biopsy bisa selesai sebelum istirahat. Sekitar jam 10 kita sudah siap di poli, dan menunggu dokter untuk proses biopsy. Masuk keruangan treatment, pakai baju biru seperti mau cukur rambut, duduk dikursi cantik. Mulut disuruh buka dan dimasukkan alat buat nyedot ludah, yang bikin perih bukan pas diambil dagingnya, tapi pas bius disemprot ke lubang (sumpah perihnya minta ampyun) sampai 2 kali semprot sepertinya sampai terasa ba’al (ga tau nulisnya, intinya mati rasa gitu) kata dokternya. Biopsi mengambil sampel dari lubang hidung kanan dan kiri, air mata menetes tak terbendung ketika alat mengorek – ngorek hidung buat memungut seonggok daging dari hidung (wkwkwk puitis bingits yak), tapi kenyataannya emang gitu, ga kerasa sakit yang tapi air mata keluar terus, sampai dokternya tanya,”kenapa nangis pak, sakit ya??”. Asyem tenan dokternya, sakit sih ga tapi ya rasanya kaya dicubit tapi ga dilepas – lepas gitu, terasa tarikannya. Ga sampai 1 jam proses biopsinya, setelah selesai istri langsung disuruh ngirim tu sampel ke bagian PA (Patologi Anatomi). Saya keluar dengan darah yang masih ngucur walaupun sudah dipasang tampon dihidung buat nyetop pendarahan. Ditunggu setengah jam, masih ngucur, ditunggu sejam masih juga ngucur. Sampai istirahat selesai jam 1 lebih masih juga ngucur, ganti tampon mungkin sudah 3 kali selama hampir 2 jam itu. Akhirnya sama dokternya disuruh pulang, sambil dikasih resep buat berhentiin darah yang masih ngucur, sambil pesan kalau darah masih ngalir terus sampai nanti sore pergi ke IGD terdekat aja buat penanganan. Baiklah kita pulang, istirahat dirumah dan Alhamdulillah darah bisa berhenti setelah dibawa istirahat.

Potoh Persiapan biopsy




Menunggu hasil biopsy sekitar 2 minggu, janji dari petugas PA katanya tanggal 18 hasil sudah bisa diambil. Bekerja seperti biasa, bahkan masih sempat ikut pelaksanaan TA Pabrik, dan juga sama sekali tidak mencari bahkan keinginan untuk browsing apa itu nasofaring dll ga ada sama sekali, pasrah saja hasilnya apa ga masalah, yang penting benjolan dileher dan mimisan bisa diobati. Tanggal 18 menuju RSMH dan langsung ke bagian PA dan tidak perlu mendaftar didepan, ternyata belum selesai, mundur ke tanggal 22 Februari. Tanggal 22 ambil hasil dan besoknya konsul ke Poli THT, dan saya dinyatakan terkena carcinoma nasofaring. “Apa dok carcinoma nasofaring??”, Tanya saya kedokter. Carsinoma nasofaring itu kanker nasofaring atau kanker rongga hidung, jadi dirongga hidung bapak ada sesuatu yang tumbuh, begitu kurang lebih penjelasan singkat dari dokter. Setelah penjelasan singkat dokter menyuruh kami untuk sabar dan menjalani semua pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter, dan kami disuruh menuju ke bilik khusus yang menangani masalah onkologi THT. Ditempat ini setelah mendapat penjelasan singkat lagi kami mendapat rekomendasi untuk CT Scan, USG Abdominal, cek IHK dan juga Echo Jantung. Karena kami mungkin masih bingung dengan vonis kanker tersebut, dokter langsung menenangkan kami sambil berujar,”Bapak tenang saja, ikuti semua prosedur insyaallah bapak bisa sembuh, banyak koq pak yang sembuh, bisa dilihat ni buku ini (sambil memperlihatkan buku tebal berisi riwayat pasien kanker di poli THT)”.

Sebenarnya kita sudah pasrah, malah senang ketika tahu penyebab mimisan dan benjolan dileher sudah diketahui, tapi ada perasaan berat memang, perasaan berat itu gimana caranya ngomong ke orang tua supaya beliau – beliau bisa juga seringan kami untuk menerima kabar ini. Jujur ga ada perasaan berat bagi saya ketika menerima vonis kanker dari dokter, jalani aja semuanya anggap lagi buat cerita baru dalam hidup, ga ada isitilah dunia berakhir dengan vonis tersebut, pokoknya maju terus umur masih muda, jalan masih panjang. Pengobatan berikutnya apa saya juga ga memikirkan, mau itu kemo apa radiasi ga terlintas sama sekali dipikiran saya. Yang terlintas hanya jalani semua rekomendasi yang dijalankan dokter dan mulai menjauhi semua makanan yang masuk ke kategori pemicu dari kanker. Jujur saya sama sekali tidak mencari kemo itu seperti apa  dan bagaimana efeknya, dan juga radiasi seperti apa saya tidak searching, karena bagi saya semakin kita berusaha untuk mencari jawaban apa itu, maka pasti akan menambah beban pikiran saya. Jalani seperti biasa, layaknya orang sehat saja. Yang terberat bukan gimana menjalani ini, tetapi seperti yang sudah saya sampaikan diatas, yang terberat adalah bagaimana kita menyampaikan ini ke orang – orang terdekat karena pastinya mereka akan bertanya terutama ibu dan bapak di Cilacap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kolam Iwak Anyar

Pit-pitan pake onthel